Rabu, 14 November 2012

Banapas le kwa weta....

       Mengenang 'dosa' masa-masa SMP dan SMA dulu adalah salah satu pilihan ketika saya stuck dengan pekerjaan. Mengingat bagaimana proses menyalin PR massal sekelas pagi-pagi, serunya nongkrong dibelakang pohon-pohon ketika disuruh lari keliling lapangan KONI saat mid semester Penjaskes, atau hebohnya debat saat mencoba untuk merancang kaos kelas saat 17 Agustusan adalah sebagian kecil dari memori indah tentang masa sekolah. Bukan berarti saya mengelu-elukan dosa-dosa itu, tapi ketika ingatan kembali pada masa itu yang tersisa hanyalah senyum membayangkan betapa usil dan nakalnya saya dan teman-teman saat itu. 

       Pekerjaan di bagian admin ekspedisi layaknya pekerjaan musiman. Meskipun ada pekerjaan tetap setiap hari, tapi jika ada muatan di kapal yang baru merapat ke Pelabuhan pekerjaan otomatis akan bertambah. Segalanya harus berlangsung cepat dan tepat karena jika barang kiriman anda sudah tiba dan belum diambil lewat dari masa tenggang pengambilan barang, maka per hari akan dikenakan biaya storage yang jelas tidak murah. Seperti suatu kali saat ada dua kapal yang merapat bersamaan dan dua-duanya memuat barang untuk didistribusikan lewat ekspedisi kami, waduhhh...kerja biasa langsung berubah menjadi kerja kuda, bahasa orang Manado : bacakar ka nyanda hahaha.... 


       Secepat apapun kerja yang bisa dilakukan otak dan tangan saya, tidak akan berguna jika tidak didukung oleh cepatnya koneksi internet. Sebagian besar pekerjaan admin memang mengandalkan komputer/laptop dan koneksi internet. Kadang saya sudah carut-marut, lari kesana kemari agar menghemat waktu, eee.... ujung-ujungnya tetap di komplain karena belum mengirim daily report ke Jakarta. Fiuhhh,,,,! 
Disaat-saat seperti inilah, keisengan dan dosa-dosa masa SMA mengambil alih pikiran saya yang mulai dipenuhi dengan omelan dan keluhan tentang lambatnya koneksi internet. Saya ingat dulu saat pelajaran komputer, Pak guru kami memberi tugas dan tugas harus dikirim ke surel Pak Guru. Siapa cepat, nilainya paling bagus. Dan saat semua murid berusaha paling cepat untuk mengirim dan mulai mengetuk-ngetuk meja karena tidak sabar melihat lambannya koneksi internet, Pak Guru berkelakar : "Tiop kwa tu layar monitor supaya cepat dia mo takirim" (Tiup saja layar monitornya biar tugasnya cepat terkirim) Hahaha.... Riuh rendah tawa langsung memenuhi Lab. Komputer saat itu. 

          Nah, saking tidak tahunya apa yang akan saya lakukan saat hendak mengirim Daily Report dan terhalang oleh kinerja jaringan, saya pun iseng meniup layar laptop sembari berharap koneksi akan bertambah cepat. Tentu saja tidak saudara-saudara. Yang ada malah layar laptop menjadi agak berembun (bahkan sedikit basah hahaha). 


             Hmmmm..... Mungkin meniup layar laptop memang tidak berefek apa-apa pada jaringan internet dan daily report saya, tapi harus saya akui, itu berdampak pada SAYA. Saya menjadi tidak terlalu panik karena laporan yang belum terkirim dan seolah-olah saya sudah melakukan sesuatu untuk mempercepat itu (meskipun jelas tidak membantu). Pikiran saya pun mengantar pada suatu kenyataan yang tidak saya sadari selama ini : Saya sering sekali merasa panik dan cemas, entah itu karena pekerjaan, kehidupan di rumah, masalah pribadi, dll. Saya mulai berkeringat dingin, suhu badan naik, dan pikiran buntu karena terlalu banyak yang harus diselesaikan sekaligus. Namun mengapa ya saya tidak pernah berpikir untuk DUDUK TENANG DAHULU, DAN BERNAPASLAH SEJENAK? 

                Mungkin masalah tidak akan selesai dengan bernapas, dan bernapas jelas tidak akan mengubah situasi yang kita hadapi. Tapi bernapas jelas akan berpengaruh pada pribadi kita, pada bagaimana cara kita untuk menyusun strategi baru menghadapi kerasnya masalah.... :) 

                

Selasa, 13 November 2012

New Life

                Sebenarnya tulisan ini harusnya naik cetak tanggal 7 November yang lalu. Hari itu sengaja saya pilih untuk menandai sebulan saya berada di kota ini. Yap, saya seorang perantauan yang mencari kehidupan. Lebih tepatnya, mencari pengalaman. 


                  Teman saya pernah bilang, seorang perempuan tidak wajib untuk mencari pekerjaan. Karena jika sudah menikah, tugasnya adalah melayani suami dan mengurus keluarga. Saya tidak sepenuhnya setuju. Makanya saya mati-matian mencari pekerjaan hingga 'terdampar' di kota pelabuhan nan indah ini. 


                Bagi saya, pekerjaan bukan semata-mata soal uang. Apalagi demi gengsi dan harga diri semata. Saya mencari pekerjaan karena saya seorang manusia. Tugas manusia di dunia ini adalah berkarya dan bermanfaat bagi orang lain. Pekerjaan bagi saya lebih kepada unsur karya daripada harta. Karena itulah, saya suka mencari pekerjaan yang berbeda, agar tantangan pun bervariasi. Puji Tuhan, saya mendapat pekerjaan yang jauh berbeda dengan pekerjaan saya sebelumnya dan bonus yang saya terima pun berlipat ganda. Eits, tunggu dulu. Bonus disini bukan melulu soal uang, tapi bonus dalam arti lain : tinggal dengan saudara yang amat baik dan pengertian, rekan kerja yang easy going dan enak diajak kerja sama, lokasi rumah yang strategis (dekat transportasi), dan tatanan kota yang setiap hari tidak lelah saya kagumi. 


                  Sepupu saya yang sering menjadi tour guide saya di kota ini agak gusar saat mengajak saya jalan-jalan dengan sepeda motor dan setelah kembali ke rumah komentar saya : "Kok disini nggak ada mall ya?" Kontan saja dia langsung menyeletukdengan muka mengernyit kusam : " Disini sebenarnya mau kerja apa shopping?" Hahahaha... Di bandingkan dengan ibukota provinsi yang menjadi pusat pemerintahan, pusat perbelanjaan dll, kota ini bisa dibilang not updated. Disini, orang nenteng Blackberry dan IPad pasti dipelototin sampe gerah sendiri. Jangankan itu, jalan-jalan dengan hak diatas 3 cm saja bisa jadi tontonan seru. Belum lagi rok mini, tanktop, bla bla bla.... Asumsi saya saat pertama datang : "Gila, kok sepi gini ya? Padahal kan kota... " 

                  
                   Akhirnya, karma pun tiba. Setiap hari rute saya hanya rumah-kantor-rumah. Di kota ini, angkot tidak memiliki jalur. Jadi ketika naik, anda harus menyebutkan tujuan anda. Nah, suatu kali saat saya naik angkot, sang sopir ternyata harus mengantarkan seorang penumpang ke daerah pegunungan dan taraaaaa...... Pemandangan ke laut lepas segera terbentang tanpa batas. Saya hampir kehabisan napas melihat hal itu. Well, ini jelas bukan pertama kalinya saya melihat laut (plis dehh). Ini juga bukan pertama kalinya saya melihat laut di kota ini. Tapi melihatnya dari sudut pandang berbeda dan tanpa direncanakan benar-benar suatu kejadian yang amazing lahhh bagi saya. 

                 Saya pun pulang kerumah dengan hati yang gembira. Sampai waktu tidur pun saya masih senyum-senyum sendiri membayangkan kejadian siang tadi. Saya terus berpikir bagaimana bisa melihat laut bsia menjadi semenarik ini? Ini hanya laut, sekumpulan air biru yang tak dapat diprediksi. Kadang menguntungkan, kadang menyebalkan dan merugikan. Ummm... seperti hidup?


                       Menjalani hidup kadang bisa menjadi sangat membosankan. Apalagi hidup benar-benar tidak bisa dikira-kira. Banyak kejutan yang datang tanpa kita duga, begitu pun dengan masalah. Mungkin seperti pengalaman saya tadi. Lalu, bagaimana membuatnya kembali menyenangkan? Nikmati, biasa itulah jawaban orang. Benar, nikmatilah hidup ini. Bila anda belum mampu menikmati, mungkin bisa dimulai dengan : MENGUBAH SUDUT PANDANG


                      Saya sudah pernah melihat laut sebelumnya, saya bahkan melihat laut setiap hari sejak pindah kemari karena kota ini kota pelabuhan terbesar di provinsi ini. Namun mengapa saya seperti orang yang baru pulang dari pengasingan dan hampir tak bisa bernapas melihat laut? Dua alasan, menurut saya : 
1) Saya benar-benar tidak menyangka akan melihat laut saat itu 
2) Saya melihat laut dari tebing tinggi dan tanpa terhalang apapun. 


                        Mungkin begitu pulalah kita harus menjalani hidup. Memandangnya dari sudut pandang berbeda. Jika kita selama ini memandangnya sebagai suatu kewajiban dan terlalu banyak masalah yang harus dihadapi, mulai sekarang pandanglah sebagai suatu tantangan. Anggaplah anda seorang kontestan acara pencarian bakat yang sangat ingin menang. Bagaimanapun sulitnya tantangan setiap minggu, anda harus hadapi karena anda ingin menang. 

                             Berhentilah berusaha menjadi Tuhan. Kita hanya manusia biasa, yang bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi sedetik pun dari sekarang. Tuhan tidak akan menciptakan hari esok bila semua telah sempurna hari ini. 


                              Jangan biarkan apapun menghalangi pandangan anda saat anda akan memandang hidup. Jangan biarkan kemarahan, kekesalan, kepedihan, luka dan kesakitan di masa lalu merintangi anda untuk menjalani hidup sekarang, untuk MENCINTAI KEHIDUPAN anda. 


                             Tanpa mengurangi rasa hormat, semoga tulisan ini tidak menggurui anda, tidak memaksa anda untuk menjadi sosok yang sempurna. Hanya ingin berbagi apa yang terlintas dalam benak pikiran ini. Salam. 





Selasa, 30 Oktober 2012

First Time

                Bersyukurlah karena masih ada penyedia blog gratis bagi para blogger amatir dan tidak konsisten seperti saya. Jika saja membuat blog lebih dari satu sudah dikenakan pajak progresif seperti halnya membeli motor baru dengan nama yang sama, pasti pajak progresif saya adalah yang paling besar. Betapa tidak, saya suka sekali membuat blog baru namun ketika akan menulis postingan pasti bingung setengah mati dan... klik. *laptop dimatikan* 


                 Untuk seseorang yang sejak SMA bercita-cita menjadi wartawan dan penulis, hal ini benar-benar membuat depresi. Tiba-tiba, materi kuliah bertahun-tahun di Ilmu Komunikasi menguap entah kemana. Baru menulis blog saja, sudah menyerah. Bagaimana kalau disuruh menulis berita tentang konflik Palestina-Israel? Atau tentang situasi carut marut politik Indonesia? Walahhhh.....


                  Akhirnya saya memutuskan untuk membuat blog dengan tema umum : Konflik. Konflik apa? Konflik yang terjadi dalam batin saya ketika melihat, mendengar, menyaksikan, menyimak, dan merasakan situasi apapun yang terjadi disekitar saya. Nah, dari situlah saya belajar untuk mengambil hal positif yang ada dalam setiap kejadian. 


                   Untuk pertama kalinya, saya merasa memiliki banyak hal untuk di share dengan internetter dimana pun berada hehehe... So, silakan menikmati tulisan-tulisan saya. Jika kurang berkenan, mohon dikomentari agar tulisan-tulisan ini tidak stuck disini saja tapi juga bisa menjadi bahan pikiran dan pelajaran bagi kita semua. 



Salam hangat dari Manado,
Indigo