Mengenang 'dosa' masa-masa SMP dan SMA dulu adalah salah satu pilihan ketika saya stuck dengan pekerjaan. Mengingat bagaimana proses menyalin PR massal sekelas pagi-pagi, serunya nongkrong dibelakang pohon-pohon ketika disuruh lari keliling lapangan KONI saat mid semester Penjaskes, atau hebohnya debat saat mencoba untuk merancang kaos kelas saat 17 Agustusan adalah sebagian kecil dari memori indah tentang masa sekolah. Bukan berarti saya mengelu-elukan dosa-dosa itu, tapi ketika ingatan kembali pada masa itu yang tersisa hanyalah senyum membayangkan betapa usil dan nakalnya saya dan teman-teman saat itu.
Pekerjaan di bagian admin ekspedisi layaknya pekerjaan musiman. Meskipun ada pekerjaan tetap setiap hari, tapi jika ada muatan di kapal yang baru merapat ke Pelabuhan pekerjaan otomatis akan bertambah. Segalanya harus berlangsung cepat dan tepat karena jika barang kiriman anda sudah tiba dan belum diambil lewat dari masa tenggang pengambilan barang, maka per hari akan dikenakan biaya storage yang jelas tidak murah. Seperti suatu kali saat ada dua kapal yang merapat bersamaan dan dua-duanya memuat barang untuk didistribusikan lewat ekspedisi kami, waduhhh...kerja biasa langsung berubah menjadi kerja kuda, bahasa orang Manado : bacakar ka nyanda hahaha....
Secepat apapun kerja yang bisa dilakukan otak dan tangan saya, tidak akan berguna jika tidak didukung oleh cepatnya koneksi internet. Sebagian besar pekerjaan admin memang mengandalkan komputer/laptop dan koneksi internet. Kadang saya sudah carut-marut, lari kesana kemari agar menghemat waktu, eee.... ujung-ujungnya tetap di komplain karena belum mengirim daily report ke Jakarta. Fiuhhh,,,,!
Disaat-saat seperti inilah, keisengan dan dosa-dosa masa SMA mengambil alih pikiran saya yang mulai dipenuhi dengan omelan dan keluhan tentang lambatnya koneksi internet. Saya ingat dulu saat pelajaran komputer, Pak guru kami memberi tugas dan tugas harus dikirim ke surel Pak Guru. Siapa cepat, nilainya paling bagus. Dan saat semua murid berusaha paling cepat untuk mengirim dan mulai mengetuk-ngetuk meja karena tidak sabar melihat lambannya koneksi internet, Pak Guru berkelakar : "Tiop kwa tu layar monitor supaya cepat dia mo takirim" (Tiup saja layar monitornya biar tugasnya cepat terkirim) Hahaha.... Riuh rendah tawa langsung memenuhi Lab. Komputer saat itu.
Nah, saking tidak tahunya apa yang akan saya lakukan saat hendak mengirim Daily Report dan terhalang oleh kinerja jaringan, saya pun iseng meniup layar laptop sembari berharap koneksi akan bertambah cepat. Tentu saja tidak saudara-saudara. Yang ada malah layar laptop menjadi agak berembun (bahkan sedikit basah hahaha).
Hmmmm..... Mungkin meniup layar laptop memang tidak berefek apa-apa pada jaringan internet dan daily report saya, tapi harus saya akui, itu berdampak pada SAYA. Saya menjadi tidak terlalu panik karena laporan yang belum terkirim dan seolah-olah saya sudah melakukan sesuatu untuk mempercepat itu (meskipun jelas tidak membantu). Pikiran saya pun mengantar pada suatu kenyataan yang tidak saya sadari selama ini : Saya sering sekali merasa panik dan cemas, entah itu karena pekerjaan, kehidupan di rumah, masalah pribadi, dll. Saya mulai berkeringat dingin, suhu badan naik, dan pikiran buntu karena terlalu banyak yang harus diselesaikan sekaligus. Namun mengapa ya saya tidak pernah berpikir untuk DUDUK TENANG DAHULU, DAN BERNAPASLAH SEJENAK?
Mungkin masalah tidak akan selesai dengan bernapas, dan bernapas jelas tidak akan mengubah situasi yang kita hadapi. Tapi bernapas jelas akan berpengaruh pada pribadi kita, pada bagaimana cara kita untuk menyusun strategi baru menghadapi kerasnya masalah.... :)